Metasastra
Metasastra Volume 5, Edisi 2, Desember 2012
Metasastra Volume 5, No. 2, Edisi Desember 2012 menyuguhkan Sembilan artikel ilmiah dan satu buah resensi buku. Objek penelitian tidak hanya sastra Indonesia, tetapi dilakukan pula terhadap sastra daerah dan sastra asing. Sastra acapkali menggambarkan kehidupan sosial masyarakat tertentu dan pada waktu tertentu pula. Demikian yang terdapat dalam novel Dian yang Tak Kunjung Padam Karya Sutan Takdir Alisyahbana (STA), setidaknya dalam pandangan Budi Agung Sudarmanto dalam artikel “Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldman dalam Novel Dian yang Tak Kunjung Padam Karya STA”. Hasil pembahasan memperlihatkan bahwa unsur struukturalisme-genetik Lucien Goldman dalam novel Dian yang Tak Kunjung Padam terkait dengan fakta kemanusiaan, yakni terjadi dikotomi antara uluan dan iliran, subjek kolektif berkaitan dengan kekerabatan keturunan iliran yang dikontraskan dengan kekerabatan uluan, dan pandangan dunia berkaitan dengan ideologi dominasi iliran terhadap uluan. Strukturalisme-genetik Lucien Goldmann sebagai suatu pendekatan sastra, digunakan pula oleh Fitria terhadap sebuah novel karya Seno Gumira Ajidarma dalam judul “Novel Negeri Senja Karya Seno Gumira Ajidarma: Tinjauan Sosiologi Sastra”. Fitria dalam artikel tersebut mengungkapkan bahwa novel Seno mengandung beberapa relasi, yaitu relasi tokoh dengan objek yang berada di sekitarnya dan relasi penguasa dan yang dikuasai yang mengimplikasikan kekuatan dan ketidakberdayaan serta kekayaan dan kemiskinan/kebodohan. Kemudian, sastra lahir tanpa kekosongan budaya, artinya sebuah karya sastra hadir tidak dalam ruang kosong, tetapi berangkat dari karya sastra sebelumnya. Artikel “Wawacan Raden Abdullah, Cerita Pendek Kotala, dan Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad: Satu Kajian Sastra Bandingan” tulisan Endah Istiqomah Apriliani membanding-bandingkan keterkaitan ketiga karya sastra tersebut yang membicarakan latar belakang Nabi Muhammad. Hasil penelitian membuktikan bahwa teks Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad merupakan teks awal, lalu lahir Wawacan Raden Abdullah yang keduanya mengacu pada fakta sejarah dan riwayat hidup Nabi Muhammad, sedangkan Kotala yang terbit tahun 2010 adalah cerpen yang terpengaruh oleh kedua teks tersebut meskipun yang mendominasi adalah Wawacan Raden Abdullah. Sementara itu, Nia Kurnia dalam “Teks si Kancil yang Metafiksi” membandingkan Astagfirullah, Aku Menyesal, yang merupakan teks kontemporer yang mengambil sumber penciptaan dari dongeng si Kancil, dengan teks dalam mitosnya, yaitu si Kancil. Astagfirullah, Aku Menyesal sebagai teks metafiksi si Kancil menampilkan kebaruan atau kemodernan yang tidak terdapat dalam teks dalam mitosnya. Selain itu, arus globalisasi dan modernisasi yang melanda negeri ini secara langsung atau tidak langsung membawa dampak sosiokultural, antara lain membicarakan seksualitas secara terbuka. Dalam novel Indonesia dasawarsa 2000-an masalah seksualitas: heteroseksualitas dan homoseksualitas cukup terefleksikan. Ery Agus Kurnianto dalam “Perilaku Absolutely Inverted Tokoh Valent dan Rafky dalam Novel Lelaki Terindah Karya Andrea Aksana: Tinjauan Psikologi Sastra” membongkar penyimpangan seksualitas tokoh novel tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpangan seksualitas disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama, pelaku termasuk jenis homoseksual dan kedua, homoseksual bukan disebabkan oleh genetik, melainkan faktor lingkungan. Masalah percampuran budaya selalu menarik perhatian para novelis sebagai sumber penciptaan kreatif, sebagaimana yang tergambarkan dalam novel East Wind:West Wind karya Pearl S. Buck’s. Erika Citra Sari Hartanto dalam “When East Meets West in Past China: Yang Kwei-lan’s Decision to Follow Her Husband’s Culture in Pearl S. Buck’s East Wind: West Wind” secara khusus mengamati masalah pertemuan budaya Cina dan budaya Amerika yang menjadi latar belakang tokoh dengan menggunakan pendekatan new criticism dan pendekatan budaya hibriditas yang mempersoalkan budaya baru hasil percampuran beberapa budaya. Hasil penelitian menggambarkan bahwa Pearl S. Buck melalui novelnya mengatakan bahwa budaya Timur dan Barat dapat berdampingan. Bahkan, kedua budaya tersebut dapat bercampur sehingga melahirkan budaya baru, seperti yang dilakukan oleh protagonist novel yang mengikuti budaya Amerika tanpa harus meninggalkan budaya Cina. Idrus, sastrawan Indonesia yang cukup diperhitungkan dalam peta perjalanan sejarah sastra Indonesia, berhasil merekam jejak masa pendudukan Jepang di Indonesia dalam cerpen dan novelnya. Oleh karena itu, I Wayan Nitayadnya dalam “Potret Ketertindasan Kaum Pribumi dalam Cerpen-Cerpen Karya Idrus pada Zaman Jepang” menggambarkan penderitaan kaum pribumi selama penjajahan Jepang. Sastra Jawa dan Madura klasik yang beredar di pesantren daerah pesisir menjadi sasaran kajian Muhammad Abdullah dalam tulisan yang berjudul “Eksistensi Martabat Tujuh dalam Naskah Jawa dan Madura”. Penelitian ini menyimpulkan bahwa naskah Jawa dan Madura, antara lain naskah Tuhfah Al-Mursalah sangat kental mengajarkan konsep Martabat Tujuh dan konsep Wahdah Al-Wujud (manunggaling kawula lan Gusti). Terakhir, Oktavia Vidiyanti dalam “Gugatan Tokoh Eng Tay dalam Novel San Pek Eng Tay Karya Oey Kim Tiang: Kajian Dekonstruksi Gender” mendeskripsikan ketidakadilan gender dalam masyarakat Cina karena kuatnya ideologi patriarkat. Protagonis novel berupaya menggugat sistem tersebut sehingga terungkapkannya wacana dekonstruksi dalam perkawinan dan pendidikan yang dalam novel menjadi modal utama dalam penegakan kesetaraan gender.
Bandung, Desember 2012
Redaksi |

















